Beberapa Proyeksi Program Biodiesel Jokowi Kerek Harga CPO

GoodNEWS82.com || Nusa Dua – Beberapa analis mancanegara memproyeksi harga minyak sawit  mentah (Crude Palm Oils/CPO) akan meningkat sekitar 25 persen hingga 40 persen pada 2020. Kenaikan harga dipicu oleh program mandatori biodiesel  dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pada program mandatori biodiesel, Jokowi mewajibkan ada campuran minyak sawit sebanyak 20 persen ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar alias B20 pada tahun ini. Lalu, berlanjut menjadi 30 persen alias B30 pada tahun depan.

Analis Oil World di Jerman, Thomas Mielke, mengatakan program biodiesel akan membuat kebutuhan minyak sawit di dalam negeri meningkat, sehingga turut mengangkat harga di pasar internasional. Proyeksinya, kebutuhan minyak sawit akan naik sekitar 2 juta ton dari 15 juta pada 2019 menjadi 17 juta ton pada 2020.

“Pada 2020, implementasi penuh B30 akan membuat minyak sawit terserap hingga 9,3 juta ton sampai 9,5 juta ton, termasuk untuk ekspor,” ungkap Mielke di sela acara konferensi sawit tahunan bertajuk Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11).

Padahal, sambungnya, proyeksi produksi minyak sawit hanya meningkat sekitar 1,8 juta ton menjadi 45,4 juta ton pada 2020. Angka ini berasal dari asumsi produksi tahun ini sekitar 43,6 juta ton.

“Pengurangan penggunaan pupuk dan kekeringan membuat produksi melambat. Pertumbuhannya diperkirakan hanya 1,8 juta ton pada 2019 dari 4,2 juta ton pada 2018,” jelasnya.

Kedua proyeksi itu, sambung dia, membuat perkiraan harga minyak sawit di pasar domestik berada di kisaran US$650 sampai US$700 per ton pada periode Januari-Juli 2020. Perkiraan itu menempatkan harga sawit naik sekitar 27 persen sampai 39 persen dari rata-rata harga sebesar US$510 per ton per Oktober 2019.

Sementara, harga minyak sawit internasional di bursa CIF ROtterdam diperkirakan menyentuh kisaran US$660 per ton. Proyeksi tersebut naik 16 persen dari rata-rata harga sekitar US$565 per ton pada bulan ini.

Di sisi lain, ia mengatakan proyeksi harga minyak sawit ke depan juga akan dipengaruhi beberapa faktor lain. Mulai dari kekhawatiran perlambatan ekonomi yang menyusutkan permintaan minyak sawit, perang dagang antara Amerika Serikat dan China, hingga cuaca kering akibat El Nino yang masih membayangi pada tahun depan.

Seperti halnya Mielke, Analis dari LMC International dari Inggris, James Fry juga memperkirakan harga minyak sawit di pasar domestik berada di kisaran US$650 per ton pada semester I 2020. Harga sawit bisa menembus US$700 per ton pada semester II 2020.

Sementara, harga minyak sawit di bursa CIF Rotterdam akan menguat ke kisaran US$700 per ton pada paruh pertama dan US$750 per ton pada paruh kedua tahun depan.

“B30 seperti yang dijanjikan pemerintah akan membuat harga CPO naik ke tingkat di mana harga minyak kedelai dan minyak matahari tidak meningkat tinggi dari kelapa sawit di beberapa negara,” tuturnya.

Sementara, Analis dari Godrej International Ltd dari India, Dorab Mistry memperkirakan harga minyak sawit internasional di bursa Malaysia berada di kisaran RM2.700 per ton pada 2020. Proyeksi ini muncul berkat peralihan mekanisme kontrol harga dari produksi ke kebijakan biodiesel.

“Dengan proyeksi angka produksi yang rendah, biodiesel menjadi percikan untuk melanjutkan rally harga,” katanya.

Analis dari Bin Qasim Association of Trade and Industry (BQATI) dari Pakistan, Abdul Rasheed Janmohammed, meramalkan harga sawit internasional di bursa Malaysia berada di kisaran RM2.400 sampai RM2.600 per ton sepanjang tahun depan. Selain karena biodiesel, peningkatan harga juga akan ditopang oleh rendahnya kenaikan volume produksi.

Proyeksinya, produksi minyak sawit Indonesia hanya bertambah sekitar 1 juta sampai 2 juta ton dari 44 juta ton menjadi 45 juta sampai 46 juta ton. “Harga minyak sawit akan menjadi yang paling suportif meningkat karena didorong oleh program B30 yang mendominasi konsumsi di domestik,” tuturnya.

Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Industri Agro Arif P. Rachmat memperkirakan harga minyak sawit di pasar domestik akan berada di kisaran US$600 per ton untuk jangka menengah. Menurutnya, harga akan menguat karena ada selisih yang cukup tinggi antara volume produksi dan kebutuhan konsumsi.

Perhitungannya, volume kebutuhan konsumsi minyak sawit akan meningkat 4,3 juta ton pada tahun depan. Sementara volume produksi hanya bertambah 1,9 juta ton.

Hal ini tak lepas dari pengaruh kebijakan B30 dari sisi permintaan. Sedangkan dari sisi produksi akan terkendala kebijakan moratorium lahan sawit dan cuaca ekstrem yang memungkinkan terjadinya kekeringan hingga bencana asap pada tahun depan.

“Kekurangan pasokan sekitar 2 juta sampai 3 juta ton (dari proyeksi kebutuhan) mungkin bisa menaikkan harga sawit hingga US$100 per ton pada tahun depan,” pungkasnya. (uli/bir/gn)

sumber : CNNindonesia.com

Artikel Terkait